geo tanah
ANALISIS TANAH DI KAWASAN BUKIT
SONGGOKERTO, SONGGORITI, KOTA BATU
,MALANG
Oleh
Ela Rachmawati
Jurusan Pendidikan Geografi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya
INTISARI
Geografi Tanah
diberikan sebagai ilmu bantu dalam Geografi khususnya yang menyangkut masalah
tanah. Tanah merupakan lapisan atas yang menyelimuti seluruh permukaan Bumi.
Tanpa Tanah, kehidupan di Bumi akan mati. Tanah sebagai tempat tumbuhannya
tanaman sehingga apabila tidak adanya tanaman, maka akan berdampak pada
kelangsungan hdup hewan terutama jenis cacing dan herbivora dan yang paling
terakhir merasakan adalah manusia karena tidak ada tanaman maupun hewan yang
dapat mereka konsumsi. Mengingat betapa pentingnya tanah bagi kehidupan makhluk
hidup, maka perlu adanya pemahaman dan hakikat mengenai tanah dan unsur-unsur
yang melingkupinya.
Tujuan dari penyusunan
tulisan ini adalah untuk membahas hubungan lingkungan berupa faktor – faktor
pembentuk tanah dengan mendiskripsikan profil tanah dan diperbandingkan dengan
wilayah lainnya. Melalui Informasi lingkungan dan deskripsi profil tanah di
daerah penelitian.
Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan
teknik fisiografi Untuk tahap awal rencana
survai tanah dengan pendekatan fisiografi, terlebih dulu disiapkan peta unit
analisis. Peta unit analisis merupakan peta kerja dalam menentukan
lokasi-lokasi dimana saja tanah akan dikaji berdasarkan horisonnya. Peta unit
analisis dapat memberikan informasi yang mendalam mencakup faktor-faktor
pembentuk tanah. Dalam praktikum ini informasi yang digunakan adalah Peta
Bentuklahan, Peta Kemiringan Lereng, dan
Peta Macam Tanah dijadikan sebagai dasar peta unit analisis
Desa
Songgokerto merupakan salah satu dari desa lainnya yang terletak di daerah
Perbukitan dan Pegunungan. Desa ini berada di lereng Gunung Panderman (2.102
meter) di Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timut. Pengambilan sampel ditujukan d
kawasan ini adalah untuk mewakili seluruh daerah berbukit dan bergunung dalam
mengidentifikasi profil tanahnya. Identifikasi ini pada akhirnya diharapkan
mampu menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa.
Kata
Kunci : Tanah, Profil Tanah, Makhluk Hidup, Topografi
PENDAHULUAN
Geografi tanah merupakan bagian dari geografi yang
mempelajari genesis tanah, sifat-sifat fisik dan kimia tanah, mikrobiologi
tanah, kesuburan tanah dan peyebarannya serta pemanfaatannya bagi kehidupan
manusia pada suatu ruang/spatial.
Tanah dalam konteks kajian geografis adalah tanah sebagai
tubuh alam yang menyelimuti permukaan bumi dengan berbagai sifat dan
perwatakanya yang khas dalam hal proses pembentukan, keterpadatan, dinamika
dari waktu ke waktu, serta manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Tanah merupakan Sumber Daya Alam yang
dapat diperbaharui disamping Air dan Udara. Tanah dapat memberikan dampak yang
postif seperti dikelola oleh makhluk hidup diantaranya Tumbuhan memanfaatkan
tanah sebagai tempat “makanan” yaitu Unsur Hara dan sebagai penguat akar
tumbuhan. Hewan secara tidak langsung memanfaatkan tanah melalui tumbuhan
sebagai makanannya terutama Hewan Herbivora. Dan yang terutama adalah Manusia
untuk digunakan dalam aspek Pertanian, Perkebunan dan Peternakan. Namun Tanah
juga memberikan dampak negatif bila tidak ada keseimbangan antara pembentukan
dan penghilangan tanah dan biasanya lagi-lagi manusia yang menjadi penyebab
utamanya. Begitu dominannya manusia dalam mempengaruhi kondisi tanah, sehingga
manusia perlu diberi pemahaman sejak awal mengenai tanah.
Pembentukan
tanah secara umum dipengaruhi oleh bahan induk, iklim,
topografi, organisme, dan waktu. Demikian juga yang terjadi di daerah praktikum, faktor-faktor tersebut secara bersama berperan dalam pembentukan dan
perkembangan tanah. Material vulkanik
merupakan bahan induk utama pembentuk tanah. Iklim tropik basah dan topografi
berombak sampai bergunung yang bekerja sejak Plistosen awal sampai sekarang,
berperan dalam pelapukan dan pedogenesis dari batuan menjadi bahan induk tanah,
serta akhirnya menjadi tanah. Perkembangan
berikutnya faktor organisme pada ekologi hutan serta lahan pertanian basah
maupun kering ikut mempercepat proses pembentukan tanah.
Kota Batu merupakan daerah yang memiliki
pembahasan lingkungan yang erat terkaitannya dengan kondisi geomorfologi dan
tanah antara lain masalah erosi, pelongsoran, kekeringan secara litologis.
Sedimentasi, dan lain-lain. Kota yang di kelilingi oleh gunung-gunung ini
membuat bentuk lahan utamanya berupa
tanah Vulkan yang baik untuk digunakan dalam bidang pertanian.
TUJUAN
Tujuan dari penyusunan laporan ini yaitu untuk membahas kondisi
geomorfologis dan bentuklahan di daerah
desa songgokerto kec songgoriti kota Batu Malang
serta menganalisis struktur dan tekstur tanah daerah ini dalam kaitannya dan
persebaran satuan-satuan tanah yang terdapat di dalamnya serta dapat
menganalisis melalui pencitraan
METODE PENELITIAN
Metode yang
dipergunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik fisiografi Untuk tahap awal rencana
survai tanah dengan pendekatan fisiografi, terlebih dulu disiapkan peta unit
analisis. Peta unit analisis merupakan peta kerja dalam menentukan
lokasi-lokasi dimana saja tanah akan dikaji berdasarkan horisonnya. Peta unit
analisis dapat memberikan informasi yang mendalam mencakup faktor-faktor
pembentuk tanah. Dalam praktikum ini informasi yang digunakan adalah Peta
Bentuklahan, Peta Kemiringan Lereng, dan
Peta Macam Tanah dijadikan sebagai dasar peta unit analisis. Penggunaan ke-3
peta tematik tersebut untuk membatasi tingkat kerumitan informasi. Sementara
beberapa peta tematik lainnya digunakan sebagai informasi tambahan untuk
mendukung informasi di peta unit analisis dengan menggunakan
peta kerja berupa peta satuan analisis yang berasal dari informasi bentuk
lahan,lereng dan tanah yang selanjutnya digunakan dalam lokasi pengambilan
sampel saat survei lapangan. Pengamatan
lapangan untuk mendapatkan data untuk diskripsi profil tanah merupakan suatu usaha penggambaran penampang
melintang tubuh tanah dalam bentuk keterangan tulisan atau notasi. Hal ini
merupakan langkah pokok untuk mendapatkan keterangan secara utuh tubuh tanah,
yang dapat digunakan sebagai landasan untuk klasifikasi atau acuan pengambilan
keputusan untuk pengelolaannya. Peubah horison yang perlu didiskripsikan meliputi tebal horison, bentuk
batas horison, dan gradasi batas horison.
Hasil
Pengamatan lapangan digunakan sebagai dasar dalam identifikasi untuk profil tanah dan analisis kualitatif sifat fisik (Tekstur, Struktur, Konsistensi, Warna, Suhu, Lengas,Porositas, Permeabilitas)sifat kimia (Bahan Organik, Unsur hara, Ph tanah) biologi tanah yang ada kaitanya dengan pembentukan tanah yang ada
pada setiap satuan bentuk lahan di daerah penelitian.
.
LETAK GEOGRAFIS KOTA BATU
Kota Batu adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Wilayah kota ini berada di
ketinggian 680-1.200 meter dari permukaan laut
atau antara 500-1500 mdpl dengan suhu udara rata-rata 15-190 C. kota Batu terletak pada titik koordinat
7°44’55,11’’ - 8°26’35,45’’
Kota
ini terletak 15 km sebelah barat Kota Malang, berada di jalur Malang-Kediri danMalang-Jombang. Kota Batu berbatasan
langsung dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara serta dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, selatan, dan barat.
GEOLOGI
KOTA BATU
Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Batu,Malang
merupakan tanah vulkanik yang berasal dari gunung api, yang dipengaruhi oleh
gunung arjuno dan anjasmoro dibagian utara dan gunung panderman di bagian
selatan. Ditinjau dari umur batuan kompleks pegunungan Aanjasmoro-lalijiwa
adalah pegunungan tua yang telah mati dan mengalami kerusakan bentuk kerucut
gunung api. Kompleks pegunungan yang paling muda adalah gunung arjuno dan
welirang dimana gunung arjuno sedang istirahat dan gunung welirang tetap aktif
dengan mengeluarkan gas belerangnya.
STRUKTUR
DAN TEKSTUR TANAH KOTA BATU
kota Batu merupakan kota yang berada pada daerah pegunungan
yang tanahnya berupa tanah fluvial dan vulkan, sebab kota batu terletak
diantara Gunung Anjasmoro, Gunung panderman dan Gunung Arjuno dan memiliki
formasi Geologi Anjasmoro tua. Satuan
tanah Fluvial terbentuk dari hasil pelapukan berbagai batu induk yang terdapat
pada satuan bentuk lahan fluvial.
Satuan-satuan tanah pada satuan bentuklahan sal proses
vulkanik berkmbng pda berbagai relief mulai dari dataran kaki hingga puncak
gunung api. Selain variasi relief, variasi iklim yang berupa perbedaan suhu
udara dan kelembaban juga sebagai akibat dari perbedaan ketinggian suatu tanah.
Pengaruh dari interaksi antara relief dan iklim telah mengakibatkan
perkembangan tanah yang berbeda-beda.
a. Struktur
Struktur tanah adalah bagian dari sifat fisik tanah yang
membahas sekelompok partikel tanah yang mengalami koogguldikelompokkan dalam 6
bentuk yaitu :
·
Granular, yaitu struktur tanah yang berbentuk granul,
bulat dan porous, struktur ini terdapat pada horison A.
·
Gumpal (blocky), yaitu struktur tanah yang berbentuk
gumpal membuat dan gumpal bersudut, bentuknya menyerupai kubus dengan
sudut-sudut membulat untuk gumpal membulat dan bersudut tajam untuk gumpal
bersudut, dengan sumbu horisontal setara dengan sumbu vertikal, struktur ini
terdapat pada horison B pada tanah iklim basah.
·
Prisma (prismatik), yaitu struktur tanah dengan sumbu
vertikal lebih besar daripada sumbu horizontal dengan bagian atasnya rata,
struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim kering.
·
Tiang (columnar), yaitu struktur tanah dengan sumbu
vertical lebih besar daripada sumbu horizontal dengan bagian atasnya membulot,
struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim kering.
·
Lempeng (platy), yaitu struktur tanah dengan sumbu
vertikal lebih kecil daripada sumbu horizontal, struktur ini ditemukan di
horison A2 atau pada lapisan padas liat.
·
Remah (single grain), yaitu struktur tanah dengan
bentuk bulat dan sangat porous, struktur ini terdapat pada horizon A.
b. Tekstur
Tekstur
tanah di lapangan dapat dibedakan dengan cara manual yaitu dengan memijit tanah
basah di antara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil dirasakan halus
kasarnya yang meliputi rasa keberadaan butir-butir pasir, debu dan liat, dengan
cara sebagai berikut:
·
Pasir : apabila rasa kasar terasa sangat jelas, tidak
melekat, dan tidak dapat dibentuk bola dan gulungan.
·
Pasir berlempung : apabila rasa kasar terasa jelas,
sedikit sekali melekat, dan dapat dibentuk bola tetapi mudah sekali hancur.
·
Lempung berpasir : apabila rasa kasar agak jelas, agak
melekat, dan dapat dibuat bola tetapi mudah hancur.
·
Lempung : apabila tidak terasa kasar dan tidak licin,
agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat sedikit dibuat gulungan
dengan permukaan mengkilat.
·
Lempung berdebu : apabila terasa licin, agak melekat,
dapat dibentuk bola agak teguh, dan gulungan dengan permukaan mengkilat.
·
Debu : apabila terasa licin sekali, agak melekat,
dapat dibentuk bola teguh, dan dapat digulung dengan permukaan mengkilat.
·
Lempung berliat : apabila terasa agak licin, agak
melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan yang agak
mudah hancur.
·
Lempung liat berpasir : apabila terasa halus dengan
sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan
dapat dibentuk gulungan mudah hancur.
·
Lempung liat berdebu : apabila terasa halus, terasa
agak licin, melekat, dan dapat dibentuk bola teguh, serta dapat dibentuk
gulungan dengan permukaan mengkilat.
·
Liat berpasir : apabila terasa halus, berat tetapi
sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan.
·
Berdebu : apabila terasa halus, berat, agak licin,
sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah dibuat gulungan.
·
Liat : apabila terasa berat dan halus, sangat lekat, dapat
dibentuk bola dengan baik, dan mudah dibuat gulungan.
PROSES
PEMBENTUKAN TANAH
v Pecahan Batuan dan Mineral
v Berbagai Ukuran
v Mineral Sekunder
v Senyawa-senyawa yang
larut dalam air
v Berada Ditempatnya/ diendapkan di tempat lain oleh air
membentuk timbunan bahan rombakan (regolith )
v Pelapukan Batuan
v Proses Penambahan ( Addition ) meliputi :
1.
Air
dalambentukpresipitasi, kondensasidanaliran
2.
O2 , CO2
, udara
3.
N, Cl, Sdariatmosfer
4.
Bahan organic
dariaktivitasorganisme
5.
Bahan –
bahanhasilsedimentasi
6.
Energidarimatahari
v Proses kehilangan(Losses) meliputi:
1.
Evapotranspirasi
2.
C, CO2 darioksidasibahanorganik
3.
N dariproses Denitrifikasi
4.
Kehilanganmassatanahakibaterosi
5.
Energidariradiasimatahari
v Proses perubahan
(Transformation)
meliputi:
1
Humifikasibahanorganik.
2
Penyusutanukuranpartikelolehpelapukan.
3
Pembentukankonkresi.
4
Dekomposisimineraldanpembentukanliat.
5
Reaksiliatdanbahanorganik.
v Proses pemindahan(Translocation)meliputi:
1
Pemindahanliat, Bahanorganik, Fe, Al, Darilapisanatas.
2
Pemindahan unsure harad ari lapisan bawah kelapisan atas
melalui siklus kegiatan vegetasi.
3
Pemindahan tanah
dari lapisan bawah kelapisan atas dan sebaliknya melalui kegiatan hewan.
4
Pemindahan garam-garaman dari lapisan bawah kelapisan atas melalui air kapiler.
HUBUNGAN LINGKUNGANFAKTOR
PEMBENTUK TANAH
Didalam
proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh dua faktor yang dominann yaitu: (1)
tersedianya bahan asal atau bahan induk, (2) adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi bahan induk (Jenny, 1941). Bahan induk tanah berbeda dengan batuan
induk. Bahan induk merupakan bahan hasil pelapukan batuan induk. Bahan induk
bersifat lepas-lepas (unconsolidated),
sementara itu, batuan induk bersifat padu. Pembentukan tanah secara umum
dipengaruhi oleh bahan induk, iklim, topografi, organisme, dan waktu.
Faktor-faktor tersebut dirumuskan dengan rumus sebagai berikut:
T = f (i, o, b, t, w)
Keterangan:
T = Tanah t
= Topografi
b = Bahan Induk i
= Iklim
f = Faktor w
= Waktu
o = Organisme
Faktor-faktor pembentuk tanah tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1.
Iklim
Unsur-unsur iklim yang mempengaruhi proses pembentukan tanah terutama ada
dua, yaitu suhu dan curah hujan.
a. Suhu/Temperatur
Suhu akan berpengaruh pada proses
pelapukan bahan induk. Apabila suhu tinggi, maka proses pelapukan akan
berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan cepat pula.Daerah penelitian
yang mempunyai suhu sekitar 20-30◦c akan mempengaruhi juga dalam tingkat
kelembaban dan selanjutnya mempengaruhi curah hujan.
b. Curah Hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah,
sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam ( pH tanah
menjadi rendah).Mengingat Rerata curah hujan Tahunan sebesar 2.239
mm/tahun,Rerata CH bulanan sebesar 186 mm/bulan dengan bulan basah selama 7
bulan,jumlah bulan kering selama 5 bulan .
Diantara komponen yang paling
berperan adalah curah hujan ( presipitasi ) dan temperatur berdasarkan nisbah
antara presipistasi + embun . Walter Penack membagi tanah dua wilayah yaitu :
Daerah humid apabila bernisbah antara 40-160 yaiyu kawasan yang bercurah besar
ketimbang evapotranspirasi sehingga proses mineralisasi lebih lambat ketimbang
humifikasi . Oleh karena ITU, Humus makin banyak terbentuk dengan makin
banyaknya hujan dan proses humifikasi optimum pada nisbah 120 mm .Tanah di
wilayah ini terbagi menjadi :
1). Tanah
Kuning atau merah dengan nisbah 40-60 mm
2). Tanah
Coklat dengan Nisbah 60-100 mm
3).Tanah
Hitam dengan nisbah 100-600 mm .
Pengaruh Iklim pada pembentukan
tanah tidak saja berlangsung secara individual, namun juga berlangsung secara
kompleks bersama sama dengan faktor pembentukan tanah lain. Wilayah yang
mempunyai curah hujan tinggi dan relief kasar akan cenderung mempunyai curah
hujan tinggi dan relief tebal. Iklim Daerah penelitian berupa iklim tropik
basah telah membentuk hubungan dengan bahan induk, topografi ,dan waktu sejak
plistosen awal sampai sekarang.
2.
Organisme (Vegetasi, Jasad
renik/mikroorganisme)
Organisme merupakan faaktor
pembentuk tanah aktif bersama-sama dengan iklim. Peranan organisme sangat luas
dalam pembentukan tanah , mulai dari penghacuran batuan melalui aksi akar
tanaman.
Keberadaan organisme tanah sangat
terkait dengan kondisi iklim. Pada umumnya di bawah kondisi iklim yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman
tingkat tinggi akan menjamin kehidupan organisme lain baik makro maupun mikro
3.
Bahan Induk
Pemahaman
mengenai batuan induk sebagai penyedia asal mineral dalam tanah adalah penting
.Tanah adalah hasil perkembanagan lebih lanjut dari hasil pelapukan batuan
induk yang disebut dengan bahan induk tanah berupa material vulkanik .Kaitan
antara faktor lain tak dapat dipisahkan dimana Iklim tropik basah daerah
penelitian menurut tipe dan kondisi iklim schmid dan ferguson D sedang dengan
nilai Q sebesar 0,71 dan Kondisi
topografi di wilayah praktikum mulai dari landai sampai bergunung dengan
variasi kemiringan lereng dari berombak sampai terjal dengan ketinggian sekitar
700 m dpl sampai 3.300 m dpl, sementara ketinggian Parangklakah 1.450 m dpl dan
Panderman 2.046 m dpl. Kondisi kemiringan lereng di wilayah praktikum berombak sampai bergunung yang
bekerja sejak plistosen awal sampai sekarang, berperan dalam pelapukan dan
pedogenesis dari batuan menjadi bahan induk tanah,serta akhirnya menjadi tanah
.
Pada daerah praktikum
yaitu di desa songgoriti tanah yang dominan adalah tanah andosol dengan bahan induknya
berasal dari Tuff vulkan intermedier sampai basis. Ini menunjukkan bahwa daerah
sekitar praktikum merupakan daerah vulkan atau pegunungan. Dengan karakteristik
lingkungan yang seperti itu akan menghasilkan tanah yang subur sehingga dapat
di manfaatkan sebagai lahan pertanian.
IDENTIFIKASI
PROFIL TANAH
1. Alat dan bahan
A. Peralatan
Pengamatan
profil tanah di lapangan memerlukan beberapa alat dan bahan demi kelancaran
pengamatan kami menggunakan peralatan dan bahan yang meliputi :
Ø
Cangkul,
garpu tanah, linggis, dan sekop untuk menggali lubang penampang/profil tanah
dengan membuat sisi penampang tegak lurus ke bawah berukuran panjang X lebar =
1,0 X 2,0 m dan kedalaman 1,5-2,0 m atau tergantung dari penampang kontrol
kedalaman dari masing-masing ordo tanah.
Ø
Meteran
duigunakan untuk mengukur ketebalan dan batas lapisan antar horison selain itu
digunakan untuk mengukur ketebalan horizon, juga untuk pengambilan dokumentasi
agar angka-angka kedalamannya terlihat jelas.
Ø
Pisau
untuk menarik garis atau menandai batas lapisan, perbedaan warna, mengambil
gumpalan tanah untuk melihat struktur, tekstur; gumpalan bahan kasar dan
mengambil contoh tanah.
Ø
Botol
semprot berisi air, untuk membasahi tanah yang akan ditentukan kelas tekstur
dan konsistensi tanahnya secara manual di lapangan serta warna tanah.
Ø
Kamera
digunakan untuk dokumentasi dari profil tanah.
Ø
Cawan
porselin
Ø
Timbangan
elektrik
A.
Bahan
Ø
Air
bersih (dalam botol plastik) untuk membasahi massa tanah guna penetapan tekstur
dan konsistensi dalam keadaan lembap dan basah, dan untuk melembapkan penampang
tanah jika terlalu kering.
Ø
Kantong
plastik untuk tempat contoh tanah.
Ø
Kertas
label untuk memberi tanda/kode pada contoh tanah yang ditempatkan di dalam dan
luar kantong plastik.
1.
Hasil
Praktikum
Setelah melakukan serangkaian
penelitian dan analisis di lapangan tepatnya di desa songgokerto,kecamatan
Batu,kabupaten Batu. Kelompok kami mendapatkan data mulai dari
relief,iklim,batuan,hidrologi hingga vegetasi.
·
Iklim,Batuan,
Hidrologi dan Vegetasi
2239
mm/th dengan bulan basah 7bln dan bulan kering 5bln. Klasifikasi iklim termasuk
tipe D-sedang. Waktu penelitian berlangsung musimnya termasuk musim transisi
dengan cuaca yang terang.
Untuk formasi geologinya berupa
pegunungan dengan litologi latosol dan bahan induknya berupa batuan vulkanik.
Dan batuan permukaanya berupa pasir
Untuk hidrologinya daerah tersebut
memiliki aliran permukaan yang sagat cepat dan air dalam permukaan yang dalam
dan daerah tersebut memiliki struktur tanah dengan tingkat permeabilitas yang
cepat dan tanpa genangan pengelolaan airnya di penuhi secara langsung oleh
curah hujan. Erosi yang terjadi adalah erosi alur dan parit.
Untuk vegatisnya berupa hutan dengan
vegetasi yang paling dominan berupa pohon pinus dan rumput gajah sistem
penanamnya wana tani dan sangat sesuai dengan kesesuaian lahan tersebut.
·
Relief
Relief
di daerah praktikum yang kelompok kami observasi memiliki bentuk lahan utama
yaitu berupa vulkan dengan bentuk lahan spesifik berupa tegalan dan di bagian
topografi bagian lereng tengah dengan ketinggian absolut kurang lebih 500- 1500
dpl. Arah hadap matahari ke arah timur,kemiringan lereng 8-13% sehingga
termasuk dalam kategori miring dengan beda tinggi antara 390 m. Yang terakhir unit relief bergunung
terjal.
·
Profil
Tanah
Profil tanah adalah penampang tegak
lurus/vertikal tanah yang menunjukkan lapisan-lapisan tanah atau horizon.
Horizon tanah adalah lapisan-lapisan yang kurang lebih seragam di dalam profil,
batas antar horizon yang bertetangga sejajar atau hampir sejajar dengan
permukaan tanah. Pengenalan awal horizon dapat dilakukan secara visual dengan
membedakan perubahan yang terjadi dari horizon satu dengan yang lain. Berikut
ini merupakan horizon tanah yang ada di lokasi penelitian
Horison pertama O dengan kedalaman
2,5 cm batas lapisanya Baur(B) dengan topografi rata(r) teksturnya berupa pasir
geluh strukturnya sub angular dengan ukuran kurang dari 50 mm. Konsistensi
kering agak keras, konsistensi lembabnya gembur dan konsistensi basahnya lekat. Pori pori tanah
yang halus sedikit (s) perataran
jumlahnya baur(b) dan ukuranya besar(b)
Horison kedua A dengan kedalaman 14
cm batas lapisanya Baur(B) dengan topografi bergelombang(g) teksturnya berupa pasir geluh strukturnya
angular dengan ukuran kurang dari 50 mm. Konsistensi kering sangat keras, konsistensi lembabnya teguh dan
konsistensi basahnya agak lekat. Pori pori tanah kasar yang banyak(b)
perakaran jumlahnya baur(b) dan ukuranya
besar(b)
Horison ketiga B dengan kedalaman 25
cm batas lapisanya jelas(J) dengan topografi bergelombang(g) teksturnya pasir
strukturnya granular dengan ukuran kurang dari 1-2 mm. Konsistensi kering
lepas-lepas , konsistensi lembabnya gembur dan
konsistensi basahnya tidak lekat. Pori pori tanah yang halus banyak(b)
perakaran jumlahnya sedang(s) dan ukuranya sedang(s)
Horison keempat C dengan kedalaman
22 cm batas lapisanya tegas(T) dengan topografi rata(r) teksturnya berupa
pasir strukturnya prismatik dengan ukuran kurang dari 100 mm. Konsistensi
kering sangat keras, konsistensi lembabnya teguh dan konsistensi basahnya sangat lekat. Pori pori
tanah yang kasar sedikit (s) perakaran
jumlahnya sedikit(s) dan ukuranya kecil(k)
Horison kelima R dengan kedalaman
2,5 cm batas lapisanya tegas(T) dengan topografi rata(r)
KESIMPULAN
iBerdasarkan hasil dari penelitian dan percobaan yang
telah dilakukan maka dapat ditarik sebuah kesimpulan beberapa hal yang menjadi
inti pokok dalam laporan praktikum identifikasi profil tanah yaitu Bahwa
pembentukan tanah dilokasi penelitian atau Kota Batu
dipengaruhi oleh faktor topografi, waktu, iklim dan aktifitas manusia.
Faktor yang berpengaruh dalam pembentukan struktur dan
tesktur tanah di daerah tersebut adalah vulkanik dan pergerakan massa.
Tanah di daerah penelitian didominasi oleh prosentase pasir sebesar 19,4 %, debu 61,1 % dan liat
sebesar 19,4 %. Secara umum tanahnya berwarna cokelat merah.
Topografi di daerah dataran
yang berbukit landai. Lapisan horison terjadi karena faktor vulkanik tidak
teratur karena terjadinya pergerakan massa
DAFTAR PUSTAKA
Notohadiprawiro,
T., 1983. Selidik Cepat Ciri Tanah di Lapangan. Jakarta, Ghalia
Indonesia.
Poerwowidodo,
1992. Metode Selidik Tanah. Surabaya, Penerbit Usaha Nasional.
Rayes, Luthfi, M.
2006. Metode Inventarisasi Sumberdaya Lahan. Yogyakarta, Penerbit Andi
Nugraha, Setya.
1993. Survei Tanah Semi Detail Dengan Pendekatan Bentanglahan di Kecamatan
Bayat Kabupaten Dati II Klaten Propinsi Jawa Tengah. Skripsi (tidak
dipubikasikan). Yogyakarta, Fak. Geografi UGM .
Jamulya,
1989. Geografi Tanah, Konsep dan Terapannya. Yogyakarta, Fak.
Geografi UGM
Rayes, Luthfi, M.
2006. Metode Inventarisasi Sumberdaya Lahan. Yogyakarta, Penerbit Andi
Komentar
Posting Komentar